Sunday, September 8, 2013

AMAL SETARA JIHAD ...

 
 
Pengertian Jihad

Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (ُالجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. 
 
Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan untuk dzat Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga.
 
Dibalik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar.
 

Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan: “Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad dijalan Allah, namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak terfahami kecuali untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina”.
 

Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan: “Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah” .
 
Dan beliau juga menyatakan: “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan”.
 
 

Tampaknya tiga pendapat diatas sepakat dalam mendefinisikan jihad menurut syariat islam, hanya saja penggunaan lafadz jihad fi sabilillah dalam pernyataan para ulama biasanya digunakan untuk makna memerangi orang kafir.
 
Oleh karena itu Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al ‘Abaad menyatakan bahwa definisi terbaik dari jihad adalah definisi Ibnu Taimiyah diatas dan beliau menyatakan:
 
 
Terfahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah diatas bahwa jihad dalam pengertian syar’i adalah nama yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara untuk mewujudkan perbuatan, perkataan dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai dan ridhoi dan menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan murkai.
 

 
 
Baiklah, di sini kami hendak mengulas mengenai amal-amal yang pahalanya setara dengan jihad. Niatan kami, selain ingin membersihkan reputasi ibadah jihad, kami juga ingin membantu saudara-saudara kami yang telah mengetahui hakekat dan kedudukan jihad dalam syari’ah Islam, yang ingin meraih pahala jihad sementara jihad belum tegak. Rasulullah dalam beberapa kesempatan menguraikan amal-amal yang pahalanya setara dengan berjihad, berikut di antaranya.
 
 
Pertama, membantu para janda dan orang-orang miskin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Orang yang membantu para janda dan orang-orang miskin seperti orang yang berjihad di jalan Allah atau orang yang mengerjakan shalat malam dan berpuasa siang hari.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no. 6006; Shahih Muslim no. 2982]
 
 
Kedua, berbuat baik kepada kedua orang tua. Dari Abu Hurairah, ada seseorang yang dating kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta izin berjihad. Nabi pun bertanya, “Apakah orang tua Anda masih hidup?” Orang itu menjawab, “Ya.” Nabi berkata, “Hendaknya kepada keduanya Anda berjihad.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no. 3004; Shahih Muslim no. 2549]
 
 
Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah kewajiban setiap anak. Sebaliknya, mendurhakai kedua orang tua adalah kejahatan paling jahat. Bagaimana berbuat baik kepada orang tua? Dengan menaatinya, menghormatinya, membantunya, memenuhi permintaannya, berdoa untuknya, dan sebagainya. Tentu saja selagi masih dalam koridor ketaatan kepada Allah. Ketika telah melanggar ketentuan Allah yaitu Islam, maka kita diperbolehkan tidak menaati orang tua. Namun tetap kita berbuat baik kepada keduanya. Bagaimana bentuk durhaka kepada orang tua? Dengan tidak menaatinya, dengan merendahkannya dan tidak memuliakannya, dengan tidak membantunya, dengan tidak memenuhi permintaan dan kebutuhannya, tidak berdoa kebaikan untuknya malahan mendoakan kejelekan untuknya, dan sebagainya.
 
 
Ketiga, menjadi amil zakat, baik zakat fithri maupun zakat mal. Dari Rafi’ bin Khadij, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Orang yang bekerja sebagai amil zakat dengan benar seperti orang yang berperang di jalan Allah hingga ia kembali ke rumahnya.” [Shahih: Sunan Abu Dawud no. 2936. Shahih Al-Jami’ no. 4117]
 
 
Keempat, bekerja mencari rizki untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri, keluarga, dan kedua orang tua. Dari Ka’b bin ‘Ujrah, ada seseorang berpapasan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para shahabat kagum terhadap kesungguhannya dalam bekerja. Lalu mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, seandainya ia berada di jalan Allah.” Rasulullah mengomentari, “Kalau ia keluar mencari rizki untuk (memenuhi kebutuhan) anaknya yang masih kecil, maka ia berada di jalan Allah. Jika ia keluar mencari rizki untuk (memenuhi kebutuhan) kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka ia terhitung di jalan Allah. Bila ia keluar mencari rizki untuk (memenuhi kebutuhan) dirinya untuk menjaga diri (dari meminta-minta), maka ia berada di jalan Allah. Namun, jika ia keluar mencari rizki untuk pamer dan kesombongan, maka ia berada di jalan setan.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1428]
 
 
Kelima, mempelajari kebaikan (ilmu) atau mengajarkannya di Masjid Nabawi. Dari Abu Hurairah, Rasulullah berkata, “Barangsiapa mendatangi masjidku ini dan tidak ada tujuan lain kecuali mempelajari atau mengajarkan kebaikan, niscaya ia seperti orang yang berjihad di jalan Allah. Dan barangsiapa dalam mendatanginya dengan tujuan yang lain, maka ia seperti orang yang melihat kenikmatan orang lain.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 6184]
 
 
Keenam, melaksanakan ibadah haji dan umrah. Dari Ummu Ma’qal, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya haji dan umrah termasuk di jalan Allah, dan umrah pada bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1599] Dari Asy-Syafa`, ada seorang yang datang kepada Nabi dan berkata, “Saya ingin berjihad di jalan Allah.” Nabi lantas berkata, “Maukah kamu aku tunjukkan jihad yang tidak ada rintangannya? (yaitu) Haji ke Baitullah.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 2611] Dari Al-Husain bin ‘Ali, Rasulullah berkata, “Mari menuju jihad yang tidak ada rintangannya, yaitu haji.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 7044]
 
 
Ketujuh, menanti datangnya shalat setelah melaksanakan shalat. Dari Anas bin Malik, Rasulullah bertanya,”Maukah kalian aku tunjukkan suatu amalan yang menyebabkan Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan meninggikan derajat-derajat kalian? Yaitu, menyempurnakan wudhu pada waktu-waktu sulit, banyak melangkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath, itulah ribath.” [Shahih: Shahih Muslim no. 251]
 
 
Para shahabat Rasulullah banyak yang lebih memilih lokasi rumah yang jauh dari Masjid, karena mengetahui keutamaan tersebut. Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia menceritakan, “Rumah  kami jauh dari masjid. Kemudian, kami ingin menjual rumah kami agar bisa berpindah di dekat masjid. Namun Rasulullah melarang kami. Beliau berkata, “Sesungguhnya pada setiap langkah kalian (bisa mengangkat) derajat.”.” [Shahih: Shahih Muslim no. 664] Dari Anas bin Malik, “Saya berjalan ke masjid bersama Zaid bin Tsabit. Ketika itu ia memperpendek langkahnya sambil berkata, “Saya ingin langkah kita ke masjid menjadi banyak.”.” [Fat-h Al-Bari 2/165 hadits no. 656] Dari Ubay bin Ka’b, ada orang yang setahu saya rumahnya paling jauh dari masjid. Tetapi ia tidak pernah tertinggal shalat jama’ah. Orang itu ditanya atau saya bertanya kepadanya, “Mengapa Anda tidak membeli keledai yang bisa Anda naiki ketika malam yang gelap dan ketika panas?” Ia menjawab, “Aku tidak suka jika rumahku dekat masjid. Aku ingin langkahku ketika berangkat ke masjid dan ketika pulang menemui keluargaku ditulis (diberi pahala).” Rasulullah berkomentar, “Allah telah mengumpulkan itu semua untukmu.” [Shahih: Shahih Muslim no. 663]
 
 
Kedelapan, berpegang teguh terhadap As-Sunnah ketika zaman fitnah dan Islam dianggap asing oleh kebanyakan manusia. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah berkata, “Sesungguhnya sesudah kalian ada suatu zaman, pada saat itu orang yang bersabar dalam berpegang teguh terhadap As-Sunnah mendapatkan pahala lima puluh orang mati syahid.” [Shahih: Shahih Al-Jami’ no. 1625]
 
Kesembilan, menyiapkan bekal bagi orang yang berjihad di jalan Allah atau mengurusi keluarga orang yang berjihad di jalan Allah. Dari Zaid bin Khalid Al-Juhani, Rasulullah berkata, “Barangsiapa menyiapkan bekal bagi orang yang berperang di jalan Allah maka ia tercatat telah berperang, dan barangsiapa mengurus keluarga orang yang berperang (di jalan Allah) maka ia tercatat telah berperang.” [Shahih: Shahih Al-Bukhari no. 2843; Shahih Muslim no. 1895]
 
 
Kesepuluh, mendakwahi orang musyrik dan memberantas kesyirikan. Jika orang musyrik yang kita dakwahi itu menyerang kaum muslimin, maka kita wajib berjihad memeranginya. Dari Abdullah bin Hubsyi Al-Khats’ami, bahwasanya Nabi pernah ditanya, “Apakah Jihad yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang berjihad melawan kaum musyrikin dengan harta dan jiwanya.” [Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud no. 1449]
 
 
Kesebelas, berdakwah kepada penguasa dan pemerintah yang lalim. Dari Abu Sa’id Al-Khudri, Rasulullah berkata, “Sebaik-baik jihad adalah mengungkapkan kebenaran kepada penguasa (sulthan) yang lalim, ataupun pemerintah (amir) yang lalim.” [Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud no. 4344]
 
 
Keduabelas, berdoa dengan sungguh-sungguh meminta mati syahid. Dari Sahl bin Hunaif, Rasulullah berkata, “Barangsiapa benar-benar meminta mati syahid niscaya Allah mengantarkannya kepada derajat orang-orang yang mati syahid sekalipun ia mati di atas ranjangnya.” [Shahih: Shahih Muslim no. 1909] Ibnu Hajar berkata, “Derajat orang yang berjihad terkadang bisa diraih oleh orang yang tidak berjihad. Bisa jadi karena niatnya yang tulus atau bisa juga karena amal shalih yang menyamainya. Setelah menjelaskan bahwa surga firdaus itu dipersiapkan untuk orang-orang yang berjihad, Allah memerintah kita untuk berdoa meminta surga Firdaus.” [Fat-h Al-Bari 6/16 hadits no. 279]
 
 
Demikianlah dua belas amal setara jihad. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq dan hidayahNya. Amin.
 
 
 
 
 
 
Ditulis oleh Brilly El-Rasheed (brillyyudhowillianto@gmail.com)
Copy Right © 1431 Brilly El-Rasheed
Disebarkan oleh
www.thaybah.or.id
 
 
 
 
 
 
 

3 comments:

Quantum Fiqih said...

Jazakumulloh kheir sudah turut serta menyebar luaskan tulisan kami, semoga menjadi jariyah, semoga menjadi kebaikan bagi kita semua.
Mamppir ya di quantumfiqih.blogspot.com atau sby-corporation.blogspot.com atau brillyelrasheed.blogspot.com

Quantum Fiqih said...

Jazakumulloh kheir sudah turut serta menyebar luaskan tulisan kami, semoga menjadi jariyah, semoga menjadi kebaikan bagi kita semua.
Mamppir ya di quantumfiqih.blogspot.com atau sby-corporation.blogspot.com atau brillyelrasheed.blogspot.com

nur hidayah said...

TEWRIMAKASIH ATAS TULISAN NYA .. SEMOGA SEGALA KEBERKATAN ALLAH SWT DILIMPAHKAN KEPADA KAMU SEMUA ..INSYA'ALLAH AAMIINNN