MENGUCAPKAN 'INSYA ALLAH' ATAS PERKARA KEBAIKAN ..
Dalam Islam, mengucapkan
"Insya-Allah"
(إن شاء الله - jika Allah menghendaki)
adalah bentuk adab, ketundukan, dan pengakuan seorang hamba bahwa segala sesuatu di alam semesta ini terjadi hanya atas kehendak dan izin Allah SWT.
Anjuran ini bersumber langsung dari Al-Qur'an
(Surah Al-Kahfi ayat 23-24) dan diperkuat oleh beberapa hadis sahih berikut: .
Hadis Kisah Nabi Sulaiman AS yang Lupa Mengucap Insya-Allah
Hadis paling masyhur mengenai pentingnya mengaitkan rencana masa depan dengan kalimat
"Insya-Allah"
adalah kisah Nabi Sulaiman AS ketika beliau bertekad melakukan suatu perkara namun lupa mengucapkannya.
Dari Abu Hurairah RA,
Rasulullah SAW bersabda:
"Sulaiman bin Dawud Alaihis Salam berkata:
‘Aku benar-benar akan menggilir 100
(atau dalam riwayat lain: 70/90)
orang istriku pada malam ini, sehingga setiap wanita akan melahirkan seorang anak lelaki yang akan berjihad di jalan Allah.’
Malaikat berkata kepadanya:
‘Ucapkanlah Insya-Allah.’
Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya karena lupa.
Beliau kemudian mendatangi istri-istrinya, dan ternyata tidak ada seorang pun yang melahirkan anak kecuali satu orang istri yang melahirkan anak dalam kondisi setengah manusia (cacat).’"
Rasulullah SAW kemudian bersabda: "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya beliau mengucapkan 'Insya-Allah', niscaya beliau tidak akan melanggar sumpahnya dan hajatnya akan dipenuhi."
(HR. Bukhari No. 5242 & Muslim No. 1654)
Hadis Kesempurnaan Iman
Mengucapkan Insya-Allah atas segala perkara masa depan yang direncanakan juga mencerminkan tingkat keimanan seseorang yang menyerahkan hasil akhir kepada Allah (tawakal).
Diriwayatkan dari jalur para sahabat, salah satunya Ibnu Abbas RA yang menekankan bahwa:
"Tidaklah sempurna iman seorang hamba, hingga di setiap ucapannya (mengenai masa depan), ia ber-istisna’ (mengucapkan Insya-Allah)."
3. Keteladanan Rasulullah SAW dalam KeseharianRasulullah SAW sendiri selalu mencontohkan ucapan ini ketika berjanji atau merencanakan sesuatu.
Sebagai contoh, dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
Ketika salah seorang sahabat (Itban bin Malik) meminta Rasulullah SAW datang ke rumahnya untuk mendirikan salat di sana, Rasulullah SAW langsung menjawab: "Aku akan lakukan itu, insya-Allah."
(HR. Bukhari No. 425)
Pengecualian:
Kapan Kita Dilarang Mengucap Insya-Allah?
Meskipun dianjurkan untuk semua perkara masa depan, Rasulullah SAW melarang keras mengucapkan "Insya-Allah" di dalam Doa.
Ketika meminta sesuatu kepada Allah, kita harus mantap, yakin, dan bersungguh-sungguh.
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
"Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian berkata
(saat berdoa):
‘Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau menghendaki, Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau menghendaki.’
Hendaklah ia memantapkan permintaannya, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa Allah."
(HR. Bukhari No. 6339 & Muslim No. 2679)
Kesimpulan Ringkas:
Gunakan Insya-Allah untuk:
Janji, rencana, atau urusan yang akan dikerjakan di masa mendatang sebagai wujud adab dan tawakal.
Jangan gunakan Insya-Allah untuk:
Doa
(seperti "Semoga cepat sembuh, insya-Allah"),
karena doa menuntut kemantapan hati dan keyakinan penuh pada rahmat Allah.
WALLAHU A'LAM ...
No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.