Sunday, March 31, 2013

9 Mimpi Nabi Muhammad SAW ...

 
 
 

 Daripada Abdul Rahman Bin Samurah ra berkata, Nabi Muhammad saw bersabda:
 
"Sesungguhnya aku telah mengalami mimpi-mimpi yang menakjubkan pada malam aku sebelum di Israqkan........"

1. Aku telah melihat seorang dari umatku telah di datang oleh malaikatul maut dengan keadaan yg amat mengerunkan untuk mengambil nyawanya,maka malaikat itu terhalang perbuatannya itu disebabkan oleh
KETAATAN DAN KEPATUHANNYA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA.

2. Aku melihat seorang dari umatku telah disediakan azab kubur yang amat menyiksakan, diselamatkan oleh berkat
WUDUKNYA YANG SEMPURNA.

3. Aku melihat seorang dari umatku sedang dikerumuni oleh syaitan-syaitan dan iblis-iblis lakhnatullah, maka ia diselamatkan dengan berkat
ZIKIRNYA YANG TULUS IKHLAS KEPADA ALLAH SWT 


 4. Aku melihat bagaimana umatku diseret dengan rantai yang diperbuat daripada api neraka jahanam yang dimasukkan dari mulut dan dikeluarkan rantai tersebut ke duburnya oleh malaikut Ahzab, tetapi
 
SOLATNYA YANG KHUSUK DAN TIDAK MENUNJUK-NUNJUK
 
telah melepaskannya dari seksaan itu.

5. Aku melihat umatku ditimpa dahaga yang amat berat, setiap kali dia mendatangi satu telaga di halang dari meminumnya,ketika itu datanglah pahala
 
PUASANYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT
 
memberi minum hingga ia merasa puas.

6. Aku melihat umatku cuba untuk mendekati kumpulan para nabi yang sedang duduk berkumpulan-kumpulan, setiap kali dia datang dia akan diusir, maka menjelmalah
 
MANDI JUNUB DENGAN RUKUN YANG SEMPURNANYA
 
sambil ke kumpulanku seraya duduk disebelahku.

7. Aku melihat seorang dari umatku berada di dalam keadan gelap gelita di sekelilingnya, sedangkan dia sendiri di dalam keadaan binggung, maka datanglah pahala
 
HAJI DAN UMRAHNYA YANG IKHLAS KEPADA ALLAH SWT
 
lalu mengeluarkannya dari kegelapan kepada tempat yang terang-benderang.

8. Aku melihat umatku cuba berbicara dengan golongan orang mukmin tetapi mereka tidak pun membalas bicaranya,maka menjelmalah
 
SIFAT SILATURRAHIMNYA DAN TIDAK SUKA BERMUSUH-MUSUHAN SESAMA UMATKU
 
lalu menyeru kepada mereka agar menyambut bicaranya,lalu berbicara mereka dengannya.

9. Aku melihat umatku sedang menepis-nepis percikan api ke mukanya, maka segeralah menjelma pahala
 
SEDEKAHNYA YANG IKHLAS KERANA ALLAH SWT
 
lalu menabir muka dan kepalanya dari bahaya api tersebut.


BERSABDA RASULULLAH SAW:
 
"SAMPAIKANLAH PESANANKU KEPADA UMATKU
YANG LAIN WALAUPUN DENGAN SEPOTONG AYAT"
 
 
 

DZIKIR DAN DOA ...

 

 

Bacaan-bacaan Dzikir dan Doa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

 
 
Beberapa bacaan-bacaan dzikir dan doa yang telah dibuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pada masa hidup beliau, antara lain:
 
 
1. Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan bahwa Rasulullah beristighfar (membaca astaghfirullahal ‘azhim) tiga kali setiap selesai sholat. Kemudian Nabi membaca doa,
“Allahumma antassalam wa minkassalam tabarakta ya dzaljalali wal Ikram.”
(Ya Allah Engkaulah Assalam, dan dari Engkaulah segala Keselamatan, Maha Mulia Engkau Wahai Yang Memiliki Keperkasaan dan Kemuliaan).
(Hadis Riwayat Imam Muslim).
 

2. Dari Al Harits at Tamimi radhiyallahu ‘anhu adalah Rasulullah telah mengajarkan kepadanya secara diam-diam (berbisik):
“Apabila engkau telah selesai mengerjakan sholat magrib, maka bacalah olehmu,
“Allahumma ajjirni minannaar”
(Ya Allah selamatkan aku daripada azab neraka) sebanyak 7 kali,
karena apabila engkau mati pada malam itu ketika engkau telah membaca doa tadi, maka wajib atasmu apa yang kau minta itu.
Apabila engkau selesai sholat subuh maka bacalah doa yang sama sebanyak 7 kali, karena sesungguhnya jika engkau mati di siang harinya, maka wajiblah atasmu apa yang engkau minta (yakni kebebasan dari neraka).”
(Hadis Riwayat Muslim dan Abu Dawud).

 3. Dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam apabila telah selesai mengerjakan sholat dan memberi salam maka Beliau berdoa:
 

“Laa ilaha illallah wahdahu la syarikalah, lahulmulku wa lahulhamdu wahuwa ‘ala kulli sya-in qadir.” (Tiada Tuhan yang disembah selain Allah, Maha Esa lagi tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nyalah segala kekuasaan, dan bagiNyalah segala Pujian, dan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa). (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).
 
 
Tetapi ada tambahan kalimat yuhyi wa yumit (Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan), setelah kata wa lahulhamdu. Bacaan ini sudah biasa diamalkan oleh kaum muslimin di Indonesia selama ratusan tahun pula. Amalan dan tambahan kalimat itu dikutip dari Hadis Riwayat Imam Turmudzi, Hasan Shohih. Hal ini penting kami tuliskan karena ada segelintir umat Islam yang rajin menuduh bid’ah kepada orang yang menambahkan kalimat yuhyi wa yumit itu, padahal sebenarnya tambahan kalimat ini justru sunnah Nabi, bukan bid’ah!


 4. Kemudian Nabi membaca doa:
 

“Allahumma laa mani’a lima a’thaita, wa laa mu’thiya lima mana’ta wa laa yanfa’ul jad minkal jad.” (Ya Allah,tiada yang dapat mencegah akan apa yang telah Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi akan apa yang telah Engkau cegah. Dan tidak memberi manfaa orang yang memiliki kesungguhan, karena kesungguhan adalah dari Engkau. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim).

 5. Kemudian Nabi juga ada membaca doa:
 
”La hawla wala quwwata illa billahi, la ilaha illah wa la na’budu illa iyyahu, lahunni’matul walfadhlu walahutstsina-ul hasanu, La ilaha illah mukhlishina lahuddina, walaukarihal kafirun.” (Hadis Riwayat Muslim). Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi menyuarakan takbir ini setiap selesai sholat lima waktu.
Ini juga merupakan salah satu lagi dalil
berdzikir bersuara (jahar)
setelah sholat fardhu.
 
(Lihat Al-Adzkar, Imam Nawawi halaman 77).

 6. Rasulullah ada mengajarkan para shahabat yang miskin-miskin untuk melakukan dzikir setelah sholat fardhu:
 
 
“Ucapkanlah olehmu, “Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar setelah selesai sholat fardhu sebanyak 33 kali”. (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim). Hadis ini lebih dijelaskan lagi dalam syarah hadis Abu Sholih yakni orang yang meriwayatkan hadis ini langsung dari Abu Hurairah bahwa cara mengerjakannya adalah sekaligus digabungkan/disatukan seperti ini:
“Subhanallah…walhamdulillah…
wallahu Akbar…
 
semuanya total berjumlah 33 kali.
 
 
Dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Ka’ab bin Ujrah radhiyallahu ‘anhu, Nabi telah bersabda: “Senantiasa tidak kecewa orang yang membaca dzikir setelah sholat fardhu dengan kalimat; Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali.” (Hadis Riwayat Muslim).
 
 
Dzikir ini dibuat secara terpisah, tidak bergabung menjadi satu seperti amalan hadis yang sebelumnya.” Meskipun cara ini sedikit berbeda, namun tetap sunnah dan telah diajarkan oleh
 
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dalam hadis yang lain dikatakan setelah membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, maka hendaklah disempurnakan menjadi seratus kali dengan kalimat, ; “La ilaha illallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadir”. Maka siapa yang melakukan hal ini akan diampunkan Allah seluruh dosa-dosanya walau dosanya sebanyak buih di lautan.
(Hadis Riwayat Muslim).




 7. Dan diriwayatkan dalam kitab Ibnu Sunni oleh Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah berkata dia:

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam jika telah selesai mengerjakan sholatnya, maka Beliau mengusap keningnya dengan tangan kanannya kemudian beliau membaca, “Asyhadu anlaa ilaaha illallah, arrahmaanurrahim, Allahummadz hib ‘annil hamma wal hazan.”
(Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Mengasihani, Ya Allah buanglah daripadaku kegunda-gulanaan dan kesedihan).




 8. Dan diriwayatkan dengan sanad yang shahih dalam kitab Sunan Abu Dawud dan Nasai dari Mu’adz bin radhiyallahu ‘anhu:

“Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memegang tanganku seraya Nabi bersabda, “Wahai Mu’adz, demi Allah sesungguhnya aku sangat mencintaimu.
Kemudian Beliau menyambung ucapannya lagi,
“Aku berwasiat kepadamu wahai Mu’adz, janganlah engkau meninggalkan bacaan dzikir ini setelah selesai melakukan sholat.
 
 
Ucapkanlah olehmu,
 
“Allahumma a’inni ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik.”
 
(Ya Allah, tolonglah aku dalam mengingatMu dan bersyukur kepadaMu dan beribadah kepadaMu dengan sebaik-baiknya).
 
Wallahu A’lam Bishshowab
 
 
TEIRMAKASIH ..
 
JAZAK ALLAH KHAYR ..
 
http://embunrevolusi.wordpress.com/2010/01/28/bacaan-bacaan-dzikir-dan-doa-rasulullah-shallallahu-%E2%80%98alaihi-wasallam/
 
 
 
 
 

DOA MASUK PASAR ...

 
 
 
 
·
  • # Masuk Surga Melalui Pasar #

    DOA MASUK PASAR [TEMPAT-TEMPAT KERAMAIAN]

    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

    Laa Ilaaha Illallaahu wahdahu Laa Syariikalahu, Lahul Mulku Walahul Hamdu, Yuhyii, Wayumiitu, Wahuwa Hayyun Laa Yamuutu, Biyadihil Khoiru, Wahuwa ‘alaa Kulli Syai-in Qodiir

    Artinya: Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    Sumber Doa

    Dari Umar bin al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

    “Barangsiapa masuk pasar lalu ia mengucapkan, “Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan, bagi-Nya segala pujian. Dia-lah Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan. Dia-lah Yang Hidup, tidak akan mati. Di tangan-Nya kebaikan. Dia-lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu,” niscaya Allah menuliskan baginya SEJUTA kebaikan dan menghapuskan darinya SEJUTA kejelekan serta mengangkat derajatnya hingga SEJUTA derajat”.”
    Dalam riwayat Ahmad terdapat tambahan, “Dan Allah MEMBANGUNKAN BAGINYA RUMAH DI SURGA.”

    (HR. At-Tirmidzi no. 3350, Ibnu Majah no. 2226, Al-Hakim no. 1930. Syaikh Al-Albani menyatakan, hadits tersebut hasan dalam Shahih wa Dhaif Sunan Ibnu Majah no. 2235, dan Shahih wa Dhaif Sunan At-Tirmidzi no. 3428, Shahih al-Jami no. 6231, Misykah al-Mashabih no. 2431, Shahih al-Targhib wa Tarhib no. 1694).

    Hadits yang mulia ini menunjukkan sangat besarnya keutamaan dan pahala orang yang membaca zikir ini ketika masuk pasar[2].

    Imam ath-Thiibi berkata, “Barangsiapa yang berzikir kepada Allah (ketika berada) di pasar maka dia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah Ta’ala berfirman tentang keutamaan mereka,

    {رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأبْصَارُ، لِيَجْزِيَهُمُ اللَّهُ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ}

    “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut pada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (QS an-Nuur:37-38)[3].

    Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini:

    - Yang dimaksud dengan pasar adalah semua tempat yang didatangkan dan diperjual-belikan padanya berbagai macam barang dagangan[4], yang ini mencakup pasar tradisional, pasar modern, super market, mall, toko-toko besar dan lain-lain.

    - Pasar adalah tempat berjual-beli dan tempat yang melalaikan orang dari mengingat Allah Ta’ala karena kesibukan mengurus perdagangan, maka di sanalah tempat berkumpulnya setan dan bala tentaranya, sehingga orang yang berzikir di tempat seperti itu berarti dia telah memerangi setan dan tentaranya, maka pantaslah jika dia mendapat pahala dan keutamaan besar yang tersebut dalam hadits di atas[5].

    - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid dan yang paling dibenci-Nya adalah pasar”[6].

    - Seorang muslim yang datang ke pasar untuk mencari rezki yang halal, dengan selalu berzikir (ingat) kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan segala sesuatu yang diharamkan-Nya, maka ini adalah termasuk sebaik-baik usaha yang diberkahi oleh Allah Ta’ala, sebagaimana sabda Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh sebaik-baik rizki yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah dari usahanya sendiri (yang halal)” [7].

    - Zikir ini lebih utama jika diucapkan dengan lisan disertai dengan penghayatan akan kandungan maknanya dalam hati, karena zikir yang dilakukan dengan lisan dan hati adalah lebih sempurna dan utama[8].

    Penulis: Ustadz Abdullah Taslim, MA
    Artikel
    www.muslim.org
 
TERIMAKASIH ...
 
JAZAK ALLAH KHAYR ....
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Monday, March 25, 2013

The Seven Under the Shade of Allah (SWT)

 
 
The Prophet said:
 

There are seven whom Allah SWT will shade in His Shade on the Day when there is no shade except His Shade: a just ruler; a youth who grew up in the worship of Allah SWT, the Mighty and Majestic; a man whose heart is attached to the mosques; two men who love each other for Allah's sake, meeting for that and parting upon that; a man who is called by a woman of beauty and position [for illegal intercourse], but be says: 'I fear Allah', a man who gives in charity and hides it, such that his left hand does not know what his right hand gives in charity; and a man who remembered Allah in private and so his eyes shed tears.'

Narrated by Abu Hurairah & collected in Sahih al-Bukhari (english trans.) vol.1, p.356, no.629 & Sahih Muslim english trans.) vol.2, p.493, no.2248
In this beautiful Hadith , the Prophet spoke about small acts of worship which result in such a huge reward: shade on the Day when there will be no shade except His Shade.

This may not seem like much at first but then reflect upon the following Hadith :


'On the Day of Resurrection, the sun would draw so close to the people that there would be left a distance of only one mile. The people will be submerged in perspiration according to their deeds, some up to their ankles, some up to their knees, some up to the waist and some would have the bridle of perspiration and, while saying this, the Messenger of Allah put his hand towards his mouth.' Narrated by al Miqdad ibn Aswad & collected in Sahih Muslim (eng. trans) vol.4, p.1487-8, no. 6852}.
 
And in another Hadith , some will be submerged in sweat 'seventy arm-lengths in the earth.' Narrated by Abu Hurairah and collected in Sahih al-Bukhari (eng. trans.) vol.8, p.353, no.539) and Muslim (eng. trans.) vol.4, p.l487, no.6851

So who would want more then, on this Day, than to be under the Shade and protection of Allah Azza wa Jal. Let us examine now the characteristics and virtues of these seven categories of people who will be worthy of such an exalted position on the Day of Gathering.

1. 'A Just Ruler...'

The concept of Justice in Islam is very important and it is something which the Muslim - Ruler and the ruled - must apply in all matters without exception. Justice means to give each the right he deserves: Muslim or non-Muslim, relative or stranger, friend or enemy.

Allah SWT says:
 

'...And do not let hatred cause you to act unjustly, that is nearer to piety [Surah al-Ma'idah (5):8].

 



Unfortunately, even if we admit this in theory, we quickly forget it in practice. So we find that when we speak about our friends and loved ones, we praise them beyond reason and when we speak about those whom we hold difference with, we can find no good in them and we just capitalise on their bad points.

This is far removed from the justice which Allah loves and gives great reward for, as mentioned in the following Hadith : 'The doers of justice will be on thrones of light at Allah's Right Hand - and both of Allah's Hands are Right Hands"- those who were just in their Ruling, with their families and in all that over which they were given authority.

The Prophet assigning to Abdullah ibn Mas'ud the open spaces in Medina between the dwellings and palm gardens of the Ansar, and when the Banu Abd ibn Zuhrah said, "Remove from us the son of Umm Abd (Ibn Mas'ud),"replying, "Why then did Allah send me. Allah does not bless a people among whom a weak man is not given his right." Baghawi transmitted it in Sharh as-Sunnah. Sunan at-Tirmidhi no.3003

The concept of justice is most important for the Ruler, since he is in charge of his people and the primary disposer of justice in the land. For this reason, the Ruler is given special mention as one of the seven who will be honoured with Allah's Shade.

2 'A youth who grew up in the worship of Allah...'

The great scholar, Ayyub as-Sakhtiyani (d.131H) said, 'From the success of a youth is that Allah guides him to a scholar of the Sunnah.' Hasan - Reported in Sharh Usulis-Sunnah of al-Lalika'i (no.30).

Indeed, it is a great blessing from Allah for a youth h be guided towards worship and be befriended by the righteous, since it is in youth that a person is most vulnerable to the temptations of life and liable to drift away from the Islamic Path. This becomes apparent when we look at society around us and we see that most of the worldly distractions, such as music, games, clubs, fashion etc. are all specifically targeted at the young. 'You're only young once!' they are told, which is why many Muslims nowadays waste their youth thinking that they will pray, wear hijaab and go on Hajj, etc. when they are old, as if they have a guarantee of longevity from Allah! How well we would do to heed the Prophet's advice when he said:

'Take benefit of five before five: your youth before your old age, your health before your sickness, your wealth before your poverty, your free time before you are preoccupied and your life before your death.' Sahih - Narrated by Ibn Abbas & collected in al-Haakim & others. Authenticated by Shaykh 'Ali ibn 'Abdul Hamid in Forty Hadith of the Call and the Caller.

3. 'A man whose heart is attached to the mosques...'

There is great encouragement in the Sunnah for men to pray in the mosques and the reward associated with it is tremendous [3]. Not only does it make the person eligible for Allah's Shade on the day of Judgement, but, 'he does not take a step [towards the mosque except that because of it, he is raised by one rank and one sin is removed from him. Then when he prays, the Angels do not cease supplicating for him [for] as long as he remains at his place of Prayer [sayings]: O Allah send blessings upon him, O Allah have mercy upon him...' Narrated by Abu Hurairah & collected in Sahih al-Bukhari (eng. trans.) vol. 1 p.352 no.620).

It must be emphasised here however, that all the Hadith encouraging the men to be attached to the mosques are not intended to lead one to the conclusion that Islam is a Religion which should be confined to the mosques, as many people imagine. Nonetheless, the mosque should be at the heart of the Muslim community, and the role of those in authority of the mosques is vital here. They are the ones mainly responsible for making the mosque a welcome refuge for the Muslims, rather than an arena for politics and power struggles as many seem to have become these days. And we seek Allah's refuge from this!

4. 'Two men who love each other for Allah's sake, meeting for that and parting upon that....'

Having mutual love for the sake of Allah is one of the great doors leading to the good of the Hereafter and a cause of tasting the sweetness of Iman in this world. Loving one another for Allah's sake means that the Muslim does not love another except for the correctness of his Deen. So it does not matter what the person looks like, what he wears, how rich or poor he is, where he comes from, or what the colour of his skin is - perhaps you dislike everything about him, but you love him for his Iman: this is loving for Allah's sake.

'Allah, the Mighty and Magnificent says:

'Those who have mutual love for the sake of My Glory will have pillars of light and will be envied the Prophets and martyrs.' Sahih - Collected in Sunan at-Tirmidhi & Musnad Ahmad (5/336-7).
Subhan Allah! Imagine being envied by Allah's chosen Messengers and those who were slain in His Path! Such is the reward of those who love one another for Allah's sake.

5. 'A man who is called by a woman of beauty and position but he says: 'I fear Allah...'

This world is full of temptations which lead to burning in the Fire and amongst them is that which comes from women. Many a man has led his soul into destruction on account of the lure of a woman which is why the Prophet warned his Ummah specifically about this. He said,

'The world is sweet and green and verily Allahis going to install you as successors upon it in order to see how you act. So avoid the allurement of women: verily the first trial for the Children of Israa'eel was caused by women.' Narrated by Abu Sa'id al-Khudri & collected in Sahih Muslim (eng. trans.) vol.4, p.1432, no.6606
The most important provision which we need to protect ourselves from this and all other temptations in life is the fear (khawf) of Allah. This fact is alluded to in the following Qur'anic Aayah:

'And as for him who feared standing before his Lord and restrained himself from impure evil desires, verily Paradise will be his abode.' [Surah an-Nazi'at (79):40 1].

6. 'A man who gives in charity and hides it, such that his left hand does not know what his right hand gives in charity...'

This describes the type of person who goes to great lengths to protect himself from ar-Riya. Ar-Riya means to do deeds in order to earn the praise and recognition of people. This sin destroys all the benefits that lie in righteous deeds and brings on a serious punishment for the one who commits it. It is particularly dangerous because it is in man's nature to desire and enjoy the praise of others. Thus, great care has to be token to ensure that one's intentions begin and remain pure whenever good actions (such as charity) are being done. Not like what we see today where we have mosque notice boards announcing who gave what to whom, why and when! Allah warns:

'O you who believe! Do not render vain your charity by reminders of your generosity or by injury, like him who spends his wealth to be seen of men and he does not believe in Allah nor in the Last Day.' [al-Baqarah (2):264]. May Allah preserve us from this.

7. '...A man who remembered Allahin private and so his eyes shed tears.'

Our noble Prophet informed us:

'If you knew what l knew, you would laugh little and weep much.' Narrated by Abu Hurairah and Anas & collected in Sahih al-Bukhari (eng. trans.) vol.8, p.326-327, nos.492 and 493.
Crying is not a sissy' thing to do. The Prophet, who was the best of all creation, would weep as would all of his Companions. Tears are a genuine expression of fear of Allah's Punishment and of our sincere love and awe of Him. But how often do we remember Allah in seclusion and are then moved to tears? How much do we laugh and how little do we weep? The Prophet said,

'There is nothing more beloved to Allah than two drops and two marks: A tear shed due to fear of Allah, and a drop of blood spilled in the path of Allah. And as for the two marks, then a mark caused in the path of Allah, and a mark caused by fulfilling one of the duties made obligatory by Allah.. Hasan - collected by at-Tirmidhi and al-Mishkat (3837).
Alhamdulillah, through these seven types of people mentioned in the Hadith , we have been given clear signposts of the way to attain Allah's pleasure and satisfaction. So dear brothers and sisters in Iman, devote yourself to being one amongst those seven, for indeed fortunate will be those who are granted Allah 's Shade on the Day when there will be no shade but His.

Saturday, March 23, 2013

GOLONGAN PEMBACA AL QURAN ...


 
 
Tingkat atau golongan pembaca Quran dapat dibahagikan 6 tingkat, mari kita perhatikan diri kita berada ditingkat yang mana, tergolong dari tingkat yang tinggi atau yang paling rendah?
 
 
GOLONGAN YANG LALAI
 
AL-GHAFILIN: Pembaca sekitar 1-9 ayat.
Golongan paling rendah ialah orang-orang yang membaca Quran kurang dari 10 ayat pada setiap malam, ini berdasar kenyataan Tamim Ad-Dhari yang pernah berkata yang maksudnya: “Siapa membaca sepuluh ayat Quran pada suatu malam, tidaklah dituliskan dia daripada golongan yang lalai.”
 
 
GOLONGAN YANG INGAT
 
AL-ZAKIRIN: Pembaca sekitar 10-49 ayat.
Kata Abi Said Al-Khadari yang bermaksud: ” Siapa membaca pada suatu malam sepuluh ayat Quran adalah dituliskan daripada golongan ingat.”
 
 
GOLONGAN PEMELIHARA
 
AL-HAFIZIN: Pembaca 50-99 ayat.
Sahabat nabi, Tamim Ad-Dhari dan Fadholah bin Abid pernah berkata yang maksudnya: ” Siapa membaca 50 ayat Quran pada suatu malam, adalah dituliskan daripada golongan pemelihara-penghafal Quran.”
 
 
GOLONGAN SETIAWAN
 
AL-QANITIN: Pembaca sekitar 100-199 ayat.
Ibnu Umar berkata: “Siapa membaca Quran pada suatu malam sebanyak seratus ayat adalah dituliskan dia daripada golongan Setiawan.”
Tamim Ad-Dhari menerangkan bahawa Rasulullah saw telah bersabda: “Siapa membaca 100 ayat Quran pada suatu malam nescaya dituliskan pahala dia mendirikan ibadah (sepenuhnya) pada malam itu.”
 
 
GOLONGAN JIAWAN
 
AL-FAIZIN: Pembaca 200-299 ayat.
Abdullah bin Omar berkata: “Siapa membaca pada suatu malam sepuluh ayat Quran tidaklah dituliskan dia daripada golongan yang lalai. Siapa membaca pada suatu malam 100 ayat Quran adalah dituliskan dia daripada golongan Setiawan dan siapa membaca 200 ayat Quran adalah dituliskan dia daripada golongan Jiawan.”
 
 
GOLONGAN JUTAWAN
 
AL-MUQANTIRIN: Pembaca 300-1000 ayat.
“Siapa membaca pada satu malam tiga ratus ayat Quran adalah dituliskan baginya satu Qinthar dan siapa membaca tujuh ratus ayat, Tidaklah aku mengetahui lagi akan pembalasannya.” demikian kata Abdullah.
Hasan menerangkan bahawa Rasulullah saw telah bersabda:
 
“Siapa membaca Quran pada suatu malam 100 ayat, tidaklah ia dibantahi oleh Quran pada malam itu, Siapa membaca Quran pada suatu malam 200 ayat nescaya dituliskan dia orang yang mendirikan peribadatan malam (ibadah sepenuh malam). dan seterusnya siapa membaca Quran pada suatu malam 500 ayat sampai meningkat 1000 ayat, adalah ia berpagi-pagi memperolehi 1 Qinthar diakhirat.”
 
Mendengar itu sahabat-sahabat pun bertanya: “Berapakah satu Qinthar itu?”
Nabi menjawab: “12000.”
Abi Ad-Darda menyebutkan persabdaan nabi saw: “Siapa membaca 1000 ayat Quran adalah dituliskan dia memperoleh 1 Qinthar pahala sedang satu Qirathnya adalah seperti Changkat yang besar”.
 
 
Tamim Ad-Dhari dan Fadholah bin Abid pula berkata: “Siapa membaca 1000 ayat Quran pada suatu malam, adalah dituliskan untuknya 1 Qinthar, sedang 1 Qirath daripada Qinthar itu adalah lebih baik daripada dunia dan isinya dan ia memperoleh lagi pahala mengikut apa-apa yang dikehendaki Allah”.
 
 
Sabda rasulullah saw: “Siapa kerap membacakan 10 ayat Quran tidaklah dituliskan daripada golongan yang lalai, Siapa membacakan 100 ayat Quran adalah dituliskan daripada golongan Setiawan dan siapa membacakan 1000 ayat Quran nescaya dituliskan daripada golongan Jutawan”.
(H.D Abi Daud M. Abdullah bin Amru bin Al-Ash)
 
Orang yang tetap bersolat (fardhu Maghrib dan Isya’ maka mereka biasanya mencapai tingkat atau golongan pemelihara yaitu orang yang membacakan pada setiap malam tidak kurang daripada 50 ayat Quran (termasuk bacaan surah-surah pendek yang dibacakan sesudah Al-Fatihah pada rakaat pertama dan kedua pada solat Maghrib dan Isya’.)

IKHLASKAN AMALAN MU ...

 

BUKTI-BUKTI IKHLAS 

Fit-Thariq Ilallah: An-Niyyah wal-Ikhlas, Dari. Yusuf al-Qaradhawi
Ikhlas itu mempunyai bukti penguat dan tanda-tanda yang banyak sekali, contohnya dalam kehidupan orang yang mukhlis; dalam tindak-tanduknya, dalam pandangan terhadap dirinya dan juga orang lain. Di antaranya adalah:

Pertama: Takut Kemasyhuran

Takut kemasyhuran dan menyebarnya kemasyhuran ke atas dirinya, lebih-lebih lagi jika dia termasuk orang yang mempunyai pangkat tertentu. Dia perlu yakin bahawa penerimaan amal di sisi Allah hanya dgn cara sembunyi-sembunyi, tidak secara terang-terangan dan didedahkan. Sebab andaikata kemasyhuran seseorang memenuhi seluruh angkasa, lalu ada niat tidak baik yang masuk ke dalam dirinya, maka sedikit pun manusia tidak memerlukan kemasyhuran itu di sisi Allah.
Maka dari itu zuhud dalam masalah kedudukan, ke
masyhuran, penampilan dan hal-hal yang serba gemerlap lebih besar darip zuhud dalam masalah harta, syahwat perut dan kemaluan. Al-Imam Ibn Syihab az-Zuhri berkata: “Kami tidak melihat zuhud dalam hal tertentu yang lebih sedikit darip zuhud dalam kedudukan. Engkau melihat seseorang berzuhud dalam masalah makanan, minuman dan harta. Namun jika kami membahagi-bahagikan kedudukan, tentu mereka akan berebut dan meminta lebih banyak lagi.”
Inilah yang membuat para ulama salaf dan orang-orang shaleh antara mereka mengkhuatirkan dan menyangsikan hatinya dari ujian kemasyhuran, penipuan dan kedudukan. Oleh kerana itu mereka memperingatkan hal ini kepada murid-muridnya. Para pengarang buku telah meriwayatkan dalam pelbagai gambaran tentang tingkah laku ini, seperti Abu Qasim a-Qusyairi dalam ar-Risalah, Abu Thalib al-Makky dalam Qutul-Qulub, dan al-Ghazali di dalam al-Ihya’.
Begitu pula yang dikatakan seorang zuhud yang terkenal, Ibrahim bin Adham, “Allah tidak membenarkan orang yang suka kemasyhuran.”

Beliau juga berkata, “Tidak sehari pun aku berasa gembira di dunia kecuali hanya sekali. Pada suatu mlm aku berada di dalam masjid salah satu desa di Syam, dan ketika itu aku sdg sakit perut. Lalu muazzin dtg dan menyeret kakiku hingga keluar dari masjid.”


Beliau berasa senang kerana muazzin tersebut tidak mengenalinya. Maka dari itu beliau diperlakukan secara kasar, kakinya diseret seperti seorang pesakit. Beliau meninggalkan kedudukan dan kekayaannya kerana Allah. Sebenarnya ketika itu beliau tidak ingin keluar jika tidak sakit.

Seorang zuhud yang terkenal, Bisyr al-Hafy berkata, “Saya tidak mengenal orang yang suka kemasyhuran melainkan agama menjadi sirna dan dia menjadi hina.”


Beliau juga berkata, “Tidak akan merasakan manisnya kehidupan akhirat orang yang suka terkenal di tengah manusia.”

Seseorang pernah menyertai perjalanan Ibn Muhairiz. Ketika hendak berpisah, orang itu berkata, “Berilah aku nasihat.”


Ibn Muhairiz berkata, “Jika boleh hendaklah engkau mengenal tetapi tidak dikenal, berjalanlah sendiri dan jangan mahu diikuti, bertanyalah dan jangan ditanya. Lakukanlah hal ini.”

Ayyub as-Sakhtiyani berkata, “Seseorang tidak berniat secara benar kerana Allah kecuali jika dia suka tidak merasakan kedudukannya.”


Khalid bin Mi’dan adalah seorang ahli ibadah yang dipercayai. Jika semakin ramai orang-orang yang berkumpul di sekelilingnya, maka beliau pun beranjak pergi krg takut dirinya menjadi terkenal.
Salim bin Handzalah menceritakan, “Ketika kami berjalan secara beramai-ramai di blkg Ubay bin Ka’ab, tiba-tiba Umar melihatnya lalu melemparkan susu ke arahnya.”
Ubay bin Ka’ab lalu bertanya, “Wahai Amirul Mu’minin, apakah yang telah engkau lakukan?”
Jawab Umar, “Sesungguhnya kejadian ini merupakan kehinaan bagi yang mengikuti dan ujian bagi yang diikuti.”
Ini merupakan perhatian Umar bin al-Khattab secara psikologi terhadap fenomena yang pada permulaannya boleh menimbulkan kesan dan pengaruh yang jauh terhadap kejiwaan orang-orang yang mengikuti dan sekaligus orang yang diikuti.
Diriwayatkan dari al-Hasan, beliau berkata, “Pada suatu hari Ibn Mas’ud keluar dari rumahnya, lalu diikuti beberapa orang. Maka beliau berpaling ke arah mereka dan berkata: “Ada apa kamu mengikutiku? Demi Allah, andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dpt mengikutiku.”
Pada suatu hari al-Hasan keluar rumah lalu diikuti beberapa orang. Beliau bertanya, “Apakah kamu ada keperluan kepadaku? Jika tidak, mengapa kejadian seperti ini masih tersemat dalam hati orang Mu’min?”
Ayyub as-Sakhtiyani melakukan suatu perjalanan, lalu ada beberapa orang yang mengalu-alukan kedatangannya. Beliau berkata, “Andaikata tidak kerana aku tahu bahawa Allah mengetahi isi hatiku tentang ketidaksukaan aku terhadap hal ini, tentu aku takut kebencian dari Allah.”
Ibn Mas’ud berkata, “Jadilah kamu sbagi sumber ilmu, pelita petunjuk, penerang rumah, obor pada waktu mlm dan pembaharu hati yang diketahui penduduk langit, namun tidak dikenal penduduk bumi.”

Al-Fudhayl ibn Iyadh berkata, “Jika engkau sanggup untuk tidak dikenal, maka lakukanlah. Apa sukarnya engkau tidak dikenal? Apa sukarnya engkau tidak disanjung-sanjung? Tidak mengapalah engkau tercela di hadapan manusia selagi engkau terpuji di sisi Allah.


Athar-athar ini tidak mengajak kepada pengasingan atau uzlah. Orang-orang yang menjadi sumber riwayat ini adalah para imam dan da’ie. Mereka memiliki pengaruh yang amat baik dalam menyeru masyarakat, mengarahkan dan memperbaiki keadaan manusia. Tetapi yang dpt difahami dari sejumlah penyataan mereka adalah kebangkitan dari naluri jiwa yang tersembunyi, kewaspadaan terhadap tipudaya yang disusupkan syaitan ke dalam hati manusia, jika hati mereka dicampuri hal-hal yang serba gemerlap dan dikelilingi orang-orang yang mengikutinya.
Kemasyhuran itu sendiri bukanlah suatu yang tercela. Tiada yang lebih masyhur darip para Anbia’, al-Khulafa’ ar-Rasyidin, dan imam-imam mujtahidin. Tetapi yang tercela adalah mencari kemasyhuran, takhta dan kedudukan, serta sgt bercita-cita mendapatkannya. Kemasyhuran tanpa cita-cita ini tidaklah menjadi masalah, sekali pun ia ttp menjadi ujian bagi orang-orang yang lemah, seperti yang dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Sejajar dgn pengertian ini yang telah disebuntukan dalam hadith Abu Dzar darip Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahawa Baginda pernah ditanya tentang seorang lelaki yang melakukan suatu amal kebajikan kerana Allah, lalu orang ramai menyanjungnya.
Maka Baginda menjawab, “Itu kurnia yang didahulukan, sekaligus khabar gembira bagi orang Mu’min.”  (HR Imam Muslim, Ibn Majah dan Ahmad)

Ada pula lafaz lain, “Seseorang melakukan amal kerana Allah lalu orang-orang pun menyukainya..”


Pengertian seperti inilah yang ditafsirkan oleh al-Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ibn Jarir at-Thabary dan alin-lainnya.
Begitu pula hadith yang ditakhrij Imam at-Tirmidzi dan Ibn Majah, dari hadith Abu Hurairah, bahawa ada seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang melakukan suatu amal dan dia pun senang melakukannya. Setiap kali dia melakukannya kembali, maka dia pun berasa takjub kepadanya.”

Baginda bersabda, “Dia mempunyai dua pahala, pahala kerana merahsiakan dan pahala memperlihatkan.”


Kedua: Menuduh Diri Sendiri

Orang yang mukhlis sentiasa menuduh diri sendiri sbagi orang yang berlebih-lebihan di sisi Allah dan krg dalam melaksanakan pelbagai kewajipan, tidak mampu menguasai hatinya kerana terpedaya oleh suatu amal dan takjub pada dirinya sendiri. Malahan dia sentiasa takut andaikata keburukan-keburukannya tidak diampunkan dan takut kebaikan-kebaikannya tidak diterima.
Kerana sikap seperti ini, ada sebahagian di antara para salaf yang menangis tersedu-sedu ketika jatuh sakit. Beberapa orang yang menziarahinya bertanya, “Mengapa engkau masih menangis, padahal engkau suka berpuasa, mendirikan solat malam, berjihad, mengeluarkan sedekah, haji umrah, mengajarkan ilmu dan banyak berzikir?”
Beliau menjawab, “Apa yang membuatkanku tahu bahawa hanya sedikit dari amal-amalku yang masuk dalam timbanganku dan juga diterima di sisi Rabb-ku? Sementara Allah telah berfirman, Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertaqwa,”
Satu-satunya sumber taqwa adalah hati. Maka dari itu al-Quran menambahinya dgn firman Allah yang bermaksud: “Maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati..”  (al-Hajj: 32)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Taqwa itu ada di sini,”  Baginda mengulanginya tiga kali dan menunjuk ke arah dadanya.  (HR Imam Muslim)
Sayyidah Aishah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang-orang yang dinyatakan dalam firman Allah bermaksud: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dgn hati yang takut, (kerana mereka tahu bahawa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.”  (al-Mu’minun: 60)
“Apakah mereka orang-orang yang mencuri, berzina, meminum khamar dan mereka takut kepada Allah?”
Baginda menjawab, “Bukan wahai puteri as-Shiddiq. Tetapi mereka adalah orang-orang yang mendirikan solat, berpuasa, mengeluarkan sedekah, dan mereka takut amalnya tidak diterima. Mereka itu bersegera untuk mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehinya.”  (HR Imam Ahmad dan lain-lainnya)
Orang yang mukhlis sentiasa takut terhadap riya’ yang menyusup ke dalam dirinya, sdg dia tidak menyedarinya. Inilah yang disebut syahwah khafiyyah yang menyusup ke dalam diri orang yang meniti jalan kepada Allah tanpa disedarinya.
Dalam hal ini Ibn ‘Atha’illah memperingatkan, “Kepentingan peribadi dalam kederhakaan amat jelas dan terang. Sdgkan kepentingan peribadi di dalam ketaatan tersamar dan tersembunyi. Padahal menyembuhkan apa yang tidak nampak itu amat sukar. Boleh jadi ada riya’ yang masuk ke dalam dirimu dan orang lain juga tidak melihatnya. Tetapi kebanggaanmu bila orang lain melihat kelebihanmu merupakan budi ketidakjujuranmu dalam beribadah. Maka kosongkanlah pandangan orang lain terhadap dirimu. Cukup bagimu pandangan Allah terhadap dirimu. Tidak perlu bagimu tampil di hadapan mereka agar engkau terlihat di mata mereka.”

Ketiga: Beramal Secara Diam-Diam, Jauh Dari Liputan

Amal yang dilakukan secara diam-diam harus lebih disukai darip amal yang disertai liputan dan didedahkan. Dia lebih suka memilih menjadi perajurit bayangan yang rela berkorban, namun tidak diketahui dan tidak dikenali. Dia lebih suka memilih menjadi bahagian dari suatu jamaah, ibarat akar pohon yang menjadi penyokong dan saluran kehidupannya, tetapi tidak terlihat oleh mata, tersembunyi di dalam tanah; atau seperti asas bangunan. Tanpa asas, dinding tidak akan berdiri, atap tidak akan dpt dijadikan berteduh dan bangunan tidak dpt ditegakkan. Tetapi ia tidak terlihat, seperti dinding yang terlihat jelas. Syauqy berkata di dalam syairnya:
Landasan yang tersembunyi
Tidak terlihat mata kerana merendah
Bangunan yang menjulang tinggi
Di atasnya dibangun megah
Di bahagian sebelum ini telah dikemukakan hadith Mu’adz, “Sesungguhnya Allah menyintai orang-orang yang berbuat kebaikan, bertaqwa dan menyembunyikan amalnya, iaitu jika tidak hadir mereka tidak diketahui. Hati mereka adalah pelita-pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap tempat yang gelap.”

Keempat: Tidak Memerlukan Pujian Dan Tidak Tenggelam Oleh Pujian

Tidak meminta pujian orang-orang yang suka memuji dan tidak bercita-cita mendapatkannya. Jika ada seseorang memujinya, maka dia tidak terkecoh tentang hakikat dirinya di hdpn orang yang memujinya, kerana mmg dia lebih mengetahui tentang rahsia hati dan dirinya darip orang lain yang boleh tertipu penampilan dan tidak mengetahui batinnya.
Ibn ‘Atha’illah berkata, “Orang-orang memujimu dari persangkaan mereka tentang dirimu. Maka adalah engkau orang yang mencela dirimu sendiri kerana apa yang engkau ketahui pada dirimu. Orang yang paling bodoh adalah yang meninggalkan keyakinannya tentang dirinya kerana ada persangkaan orang-orang tentang dirinya.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anh, bahawa jika dipuji orang lain maka beliau berkata, “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku kerana apa yang mereka katakan. Berikanlah kebaikan kepadaku dari apa yang tidak mereka ketahui.”
Ibn Mas’ud radhiallahu ‘anh berkata kepada orang-orang yang mengekori dan mengerumuninya, “Andaikata kamu tahu alasanku menutup pintu rumahku, dua orang antara kamu pun tidak akan dpt mengikutiku.” Padahal beliau adalah sahabat yang menonjol, pemuka petunjuk dan pelita Islam.
Sekumpulan orang memuji seorang Rabbani. Lalu dia mengadu kepada Allah sambil berkata, “Ya Allah, mereka tidak mengenalku dan hanya Engkaulah yang mengetahui siapa diriku.”

Salah seorang yang shaleh bermunajat kepada Allah, kerana sebahagian orang ada yang memujinya dan menyebut-nyebut kebaikan dan kemuliaan akhlaknya:



Mereka berbaik sangka kepadaku
Padahal hakikatnya tidaklah begitu
Tetapi aku adalah orang yang zalim
Sbagimana yang Engkau sedia maklum
Kau sembunyikan semua aib yang ada
Dari pandangan mata mereka
Kau kenakan pakaian menawan
Sbagi tabir tutupan
Jadilah mereka meyintai
Padahal aku tidak layak dicintai
Tapi hanyalah diserupai
Janganlah Engkau hinakan aku
Pada Hari Qiamat di tengah mereka
Jadikanlah aku yang mulia
Termasuk yang hina dina
Penyair yang shaleh ini mengisyaratkan makna yang lembut dan sgt penting, iaitu keindahan tabir yang diberikan Allah kepada hamba-hambaNya. Brp banyak cela yang tersembunyi, dan Allah menutupinya dari pandangan orang ramai. Andaikata Allah membuka tabir itu dari pandangan mereka, tentu kelemahannya akan terserlah dan kedudukannya akan jatuh. Tetapi kurnia Allah enggan untuk menyingkap tabir kelemahan hamba-hambaNya, sbagi kurnia dan kemuliaan baginya.
Seerti dgn ini telah dikatakan oleh Ibn ‘Atha’illah, “Sesiapa yang memuliakanmu, sbnrnya dia telah memuliakan keindahan tabir pada dirimu. Keutamaan ada pada diri orang yang memuliakanmu dan menutupi aibmu, bukan pada diri orang yang menyanjungmu dan berterima kasih kepadamu.”
Abu al-Atahiyah berkata dalam syairnya:
Allah telah berbuat baik kepada kita
Kerana kesalahan tidak menyebar ke mana-mana
Apa yang tersembunyi pada diri kita
Tentu tersingkap di sisiNya

Kelima: Tidak Kedekut Pujian Terhadap Orang Yang Mmg Layak Dipuji

Tidak kedekut memberikan pujian kepada orang lain yang mmg layak dipuji dan menyanjung orang yang mmg layak disanjung. Di sana ada dua bencana yang bakal muncul: Pertama, memberikan pujian dan sanjungan kepada orang yang tidak berhak. Kedua, kedekut memberikan pujian kepada orang yang layak.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memuji sekumpulan para sahabatnya, menyebut-nyebut keutamaan dan kelebihan mereka, seperti sabda Baginda tentang Abu Bakar yang bermaksud: “Andaikata aku boleh mengambil seorang kekasih selain Rabb-ku, nescaya aku mengambil Abu Bakar sbagi kekasihku. Tetapi dia adalah saudara dan sahabatku.”
Sabda Baginda kepada Umar: “Andaikata engkau melalui suatu jalan, tentu syaitan akan melalui jalan yang lain.”
Sabda Baginda kepada Uthman: “Sesungguhnya beliau adalah orang yang para malaikat pun berasa malu terhadap dirinya.”
Sabda Rasulullah terhadap Ali: “Di mataku engkau seperti kedudukan Harun di mata Musa.”
Sabda Rasulullah terhadap Khalid bin al-Walid: “Beliau adalah salah satu darip pedang-pedang Allah.”
Sabda Rasulullah terhadap Abu Ubaidah: “Beliau adalah kepercayaan umat ini.”
Masih ramai sahabat yang dipuji Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kerana kelebihan dan keistimewaan mereka. Di antara mereka ada dari kalangan pemuda, seperti Usamah bin Zaid yang diangkat menjadi komandan pasukan perang, padahal dalam pasukan tersebut terdapat para pemuka sahabat. Baginda mengangkat Itab bin Usaid sbagi pegawai di Makkah, padahal umurnya masih dua puluh thn. Mu’adz bin Jabal dikirim ke Yaman, padahal beliau masih muda. Sebahagian di antara mereka lebih diutamakan darip orang-orang yang lebih terdahulu memeluk Islam, kerana kelebihan dirinya, seperti Khalid bin al-Walid dan Amr bin al-Ash.
Boleh jadi seseorang tidak mahu memberikan pujian kepada orang yang layak dipuji, kerana ada maksud tertentu dalam dirinya, atau kerana rasa iri hati yang disembunyikan, seperti takut campurtangan di pejabatnya, atau menyaingi kedudukannya. Kerana dia juga tidak mampu untuk melemparkan celaan, maka setidak-tidaknya dia hanya berdiam diri dan tidak perlu menyanjungnya.
Kita melihat bagaimana Umar bin al-Khattab yang meminta pendapat Ibn Abbas dalam pelbagai urusan, padahal Ibn Abbas masih sgt muda. Maka para pemuka sahabat berkata kepadanya, “Bicaralah wahai Ibn Abbas. Kerana usia yang muda tidak menghalangimu untuk berbicara.”

Keenam: Berbuat Selayaknya Dalam Memimpin

Orang yang mukhlis kerana Allah akan berbuat selayaknya ketika menjadi pemimpin di barisan terhadapan dan ttp patriotik ketika berada paling blkg, selagi dalam dua keadaan ini dia mencari keredhaan Allah. Hatinya tidak dikuasai kesenangan untuk tampil, menguasai barisan dan menduduki jabatan strategi dalam kepimpinan. Tetapi dia lebih mementingkan kemashlahatan bersama kerana takut ada kewajipan dan tuntutan kepimpinan yang dia lewatkan.
Apa pun keadaannya dia tidak bercita-cita dan tidak menuntut kedudukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi jika dia dibebankan tugas sbagi pemimpin, maka dia melaksanakannya dan memohon pertolongan kepada Allah agar dia mampu melaksanakannya dgn baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mensifatkan kelompok orang seperti ini dalam sabda Baginda yang bermaksud:
“Keuntungan bagi hamba yang mengambil tali kendali kudanya fi sabilillah, yang kusut kepalanya dan yang kotor kedua telapak kakinya. Jika kuda itu berada di barisan blkg, maka dia pun berada di kedudukan penjagaan.”  (HR Imam Bukhari)
Allah meredhai Khalid bin al-Walid yang diberhentikan sbagi komandan pasukan, sekali pun beliau seorang komandan yang sentiasa mendapat kemenangan. Stelah itu beliau pun menjadi orang bawahan Abu Ubaidah tanpa rasa rendah diri. Dalam kedudukan seperti itu pun beliau ttp ikhlas memberikan pertolongan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan seandainya ada seseorang yang meminta jawatan dan sengaja untuk mendapatkannya. Telah disebuntukan di dalam as-Shahih, bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah:
“Janganlah engkau memimta jawatan pemimpin. Kerana jika engkau memperoleh jawatan itu tanpa meminta maka engkau akan mendapat sokongan, dan jika engkau memintanya, maka semua tanggungjawab akan dibebankan kepadamu.”  (Muttafaq ‘Alaihi)

Ketujuh: Mencari Keredhaan Allah, Bukan Keredhaan Manusia

Tidak memperdulikan keredhaan manusia jika di sebalik itu ada kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab setiap orang di antara satu sama lain saling berbeza dalam sikap, rasa, pemikiran, kecenderungan, tujuan dan jalan yang ditempuh. Berusaha membuat mereka redha adalah suatu yang tidak bertepi, tujuan yang sulit diketahui dan tuntutan yang tidak terkabul. Dalam hal ini seorang penyair berkata:
Adakalanya seseorang
Membuat redha sekian ramai orang
Kini betapa jauh jarak yang membentang
Di tengah tuntutan-tuntutan hawa nafsu
Penyair lain berkata:
Jika aku meredhai orang-orang yang mulia
Tentunya aku memurkai orang-orang yang hina
Orang yang mukhlis tidak terlalu peduli dgn semua ini, kerana syiarnya hanya bersama Allah. Dikatakan dalam satu syair:
Boleh jadi engkau mengasingkan diri
Tetapi hidup ttp terasa pahit di hati
Boleh jadi engkau redha
Padahal orang lain murka
Engkau membangun dan orang lain merobohkan
Antara diriku dan alam ada kerosakan
Jika di hatimu ada cinta semua itu tiada daya
Apa yang ada di atas tanah
Ttp menjadi tanah

Kelapan: Menjadikan Keredhaan Dan Kemarahan Kerana Allah, Bukan Kerana Kepentingan Peribadi

Kecintaan dan kemarahan, pemberian dan penahanan, keredhaan dan kemurkaan harus dilakukan kerana Allah dan agamaNya, bukan kerana pertimbangan peribadi dan kepentingannya, tidak seperti orang-orang munafik opportunis yang dicela Allah dalam KitabNya:
“Dan di antara mereka ada yang mencela mu tentang (pembahagian) zakat. Jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dgn serta merta mereka menjadi marah.”  (at-Taubah: 58)
Boleh jadi engkau pernah melihat orang-orang yang aktif dalam lapangan dakwah, apabila ada salah seorang rakannya melontarkan perkataan yang mengganggu atau melukai perasaannnya, atau ada tindakan yang menyakiti dirinya, maka secepat itu pula dia marah dan meradang, lalu meninggalkan harakah dan aktivitinya, meninggalkan medan jihad dan dakwah.
Ikhlas untuk mencapai tujuan menuntutnya untuk cekal dalam berdakwah dan gerak langkahnya, sekali pun orang lain menyalahkan, meremehkan dan bertindak melampaui batas terhadap dirinya. Sebab dia berbuat kerana Allah, bukan kerana kepentingan peribadi atau atas nama keluarga, serta bukan kerana kepentingan orang tertentu.
Dakwah kepada Allah bukan seperti harta yang ditimbun atau harta milik seseorang. Tetapi dakwah merupakan milik semua orang. Siapa pun orang Mu’min tidak boleh menarik diri dari medan dakwah ini hanya kerana sikap atau tindakan tertentu yang mempengaruhi dirinya.

Kesembilan: Sabar Sepanjang Jalan

Perjalanan yang panjang, lambatnya hasil yang diperoleh, kejayaan yang tertunda, kesulitan dalam bergaul dgn pelbagai lapisan manusia dgn perbezaan perasaan dan kecenderungan mereka, tidak boleh membuatnya menjadi malas, bersikap leka, mengundurkan diri, atau berhenti di tengah jalan. Sebab dia berbuat bukan sekadar untuk sebuah kejayaan atau pun kemenangan, tetapi yang plagi pokok tujuannya adalah untuk keredhaan Allah dan menuruti perintahNya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam, pemuka para anbia’, hidup di tengah kaumnya selama 950 thn. Beliau berdakwah dan bertabligh, namun hanya sedikit sekali yang mahu beriman kepada beliau. Padahal pelbagai cara dakwah sudah ditempuh, waktu dan bentuk dakwahnya juga pelbagai cara, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah melalui perkataan beliau:
“Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan terlalu menyombongkan diri.”  (Nuh: 5-7)
Sekali pun harus menghabiskan masa selama 950 thn, beliau ttp menyeru kaumnya dan akhirnya ada 40 orang yang berhimpun bersama beliau. Sedangkan kaumnya yang lain berpaling dari beliau, sekali pun beliau sgt berharap mereka mahu beriman.
Al-Quran telah mengisahkan kepada kita individu-individu Mu’min di dalam surah al-Buruj. Mereka rela mengorbankan nyawa fi sabilillah dan mereka tidak mengatakan, “Kematian ini dpt memberi apa-apa manfaat terhadap dakwah kita?”
Mereka tidak berkata seperti itu, kerana mereka mempunyai keteguhan hati dan pengorbanan. Kejayaan dakwah ada di tgn Allah. Siapa yang tahu kalau pun darah mereka itu merupakan santapan lazat bagi pohon iman generasi berikutnya?
Perkara yang prinsip, alam orang yang mukhlis hanya bagi Allah semata. Dia cekal dalam hal ini dan terus seperti itu. Hasil dan buah di dunia diserahkan kepada Allah, kerana Allah-lah yang menyediakan penyebabnya dan membatasi waktunya. Dia hanya sekadar berusaha. Jika berjaya, maka segala puji hanya bagi Allah, dan jika gagal, maka segala daya kekuatan itu hanya milik Allah.
Sesungguhnya di akhirat Allah tidak akan bertanya kepada manusia, “Mengapa engkau tidak memperoleh kemenangan?” Tetapi Dia akan bertanya, “Mengapa engkau tidak berusaha?”
Allah tidak bertanya, “Mengapa engkau tidak berjaya?” Tetapi Dia bertanya, “Mengapa engkau tidak melakukannya?”

Kesepuluh: Berasa Senang Jika Ada Yang Bergabung

Berasa senang jika ada seseorang yang mempunyai kemampuan, bergabung dalam barisan mereka yang mahu beramal, untuk menegakkan bendera atau ikut taat dalam amal. Hal ini harus disertai dgn usaha memberikan kesempatan kepadanya, sehingga dia dpt mengambil tempat yang sesuai dgn kedudukannya. Dia tidak harus rasa terganggu, terganjal, dengki atau pun gelisah kerana kehadirannya. Malahan jika orang yang mukhlis melihat ada orang lain yang lebih baik darip dirinya yang mahu memikul tanggungjawabnya, maka dgn senang hati dia akn mundur, memberikan tanggungjawabnya kepada orang itu dan dia berasa senang menyerahkan jawatan kepadanya.
Sebahagian orang yang memegang jawatan, lebih-lebih lagi jika berada di barisan hadapan, tidak mahu menyerah dalam mempertahankan kedudukannya, tidak mahu berundur walau bagaimanapun keadaannya dan suka menekan orang lain. Dia berkata, “Ini merupakan kedudukan yang telah diberikan Allah kepadaku, maka aku tidak mahu melepaskannya. Ini adalah pakaian yang telah dikenakan kepadaku, maka aku tidak mahu membukanya. Kedudukan ini dtg dari langit.”
Padahal waktu terus berlalu, keadaan berubah dan kekuatan menjadi lemah. Setiap masa diperuntukkan bagi mereka yang sesuai dgnnya, sebagaimana setiap tempat diperuntukkan bagi orang yang mmg sesuai dgn tenoat itu. Banyak cemuhan ditujukan kepada penguasa yang bermati-matian mempertahankan kerusi dan kedudukannya, dgn anggapan bahawa merekalah yang paling mampu mengendalikan perahu dan menjaganya dari terpaan angin taufan.
Ketika mendapat kritik dari orang lain, para da’ie Muslim tidak boleh menutup mata atau menutup telinga. Mereka juga tidak boleh lpada tgn demi kemaslahatan dakwah sebagaimana orang lain yang tidak boleh lps tgn demi kemaslahatan negara dan ummah. Kerana andai lpada tgn, boleh jadi itu merupakan belenggu syaitan dan godaan yang dibisikkan ke dalam hati para aktivitis Islam. Sehingga jika yang lebih banyak berbicara adalah kepentingan diri sendiri, kecintaan kepada kedudukan dan dunia, maka itu dianggap pengabdian terhadap agama.
Brp ramai jemaah atau harakah yang disusupi kezaliman dari luar, pengaruh dari dalam atau kepincangan dalam berfikir dan beramal, tiada inovasi dan tajdid, sbagi akibat dari kerakusan satu atau dua orang yang terlibat di dalamnya. Dia tidak mahu melepaskan kedudukannya kepada orang lain. Dia lupa bahawa bumi ini terus berputar, planet-planet terus berlalu, dunia terus berubah. Tetapi ternyata mereka tidak mahu berputar seiring dgn putaran bumi, tidak berubah seiring dgn perubahan waktu dan tempat serta keadaan manusia.
Malahan di antara mereka ada yang memikul beban dan tanggungjawab melebihi kemampuan bahunya. Padahal maksudnya ialah untuk menghalang jalan bagi orang lain yang lebih mampu dan lebih bertenaga, bukan sahaja orang lain itu dpt dikerahkan untuk mengurangkan beban amanat yang dipikulnya malah sekaligus sbagi melatih diri untuk memikul tanggungjawab.

Kesebelas: Rakus Terhadap Amal Yang Bermanfaat

Di antara bukti ikhlas adalah rakus terhadap amal yang paling diredhai Allah, dan bukan yang paling diredhai oleh dirinya sendiri. Sehingga orang yang mukhlis lebih mementingkan amal yang lebih banyak manfaatnya dan lebih mendalam pengaruhnya, tanpa disusupi hawa nafsu dan kesenangan diri sendiri.
Dia senang melakukan puasa nafilah dan solat dhuha. Namun sekali pun waktunya dihabiskan untuk mendamaikan mereka yang sdg bertikai, justeru itulah yang lebih dipentingkannya. Dalam sebuah hadith disebuntukan:
“Ketahuilah, akan ku khabarkan kepadamu tentang sesuatu yang lebih utama darip darjat puasa, solat dan sedekah. Iaitu mendamaikan di antara sesama manusia. Sebab kerosakan di antara sesama amnusia adalah pemotong.”  (HR Imam Abu Daud dan at-Tirmidzi, hadith shahih)
Dia mendapatkan kesenangan di hati dan kegembiraan di dalam jiwa jika boleh melaksanakan umrah pada setiap bulan Ramadhan dan haji pada musimnya. Tetapi dikatakan kepadanya, “Sumbangkan saja wang itu untuk ikhwan kita di Palestin atau Bosnia atau Kashmir yang sdg mengalami kehancuran.” Jika hatinya tidak lapang dan menolak, maka dia seperti apa yang dikatakan al-Ghazali sbagi orang yang tertipu.
Ada seorang penderma dari salah satu negara kaya yang berkunjung ke Afrika untuk membangun sebuah masjid. Di sana dia ditemui oleh para wakil masyarakat, yang mengusulkan akar dia membaiki bbrp masjid lama yang hampir roboh. Sementara masjid-masjid itu berada di tempat strategik di tengah permukiman penduduk dan kewujudannya sgt diperlukan. Tabung yang mestinya untuk membangun satu masjid yang direncanakan, cukup untuk membaiki sepuluh masjid lama yang sudah ada dan hampir roboh itu. Tetapi ternyata dia menolak, kecuali jika namanya digunakan untuk nama-nama masjid tersebut.

Kedua Belas: Menghindari Ujub

Di antara tanda kesempurnaan ikhlas ialah tidak merosak amal dgn ujub, berasa senang dan puas terhadap amal yang telah dilakukannya. Sikap seperti ini dpt membutakan matanya untuk melihat celah-celah yang sewaktu-waktu muncul. Seharusnya apa yang perlu dilakukan oleh orang Mu’min stelah melaksanakan suatu amal ialah takut jikalau dia telah melakukan kelalaian, disedari mahupun tidak disedari. Maka dari itu dia takut jikalau amalnya tidak diterima. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari mereka yang bertaqwa.”  (al-Maidah: 27)
Di antara ungkapan yang sgt berkesan dalam masalah ini, yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib adalah, “Suatu keburukan yang menyesakkanmu lebih baik di sisi Allah darip kebaikan yang membuatmu ujub.”
Pengertian seperti ini juga ditetapkan Ibn ‘Atha’illah di dalam Al-Hikam, beliau berkata, “Boleh jadi Allah membuka pintu ketaatan bagimu, tetapi tidak membuka pintu penerimaan amal bagimu. Boleh jadi Allah mentaqdirkan kederhakaan ke atas dirimu, lalu kederhakaan itu menjadi sebab yang menghantarkan ke tujuan. Kederhakaan yang membuahkan ketundukan dan kepasrahan lebih baik darip ketaatan yang membuahkan ujub dan kesombongan.”
Dari sini al-Quran memperingatkan agar tidak menyertai sedekah dgn menyebut-nyebut sedekah itu dan ucapan yang menyakitkan, kerana dikhuatirkan justeru menggugurkan pahala yang dihilangkan pengaruhnya. Allah berfirman yang bermaksud:
“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik darip sedekah yang diiringi dgnsuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekah kamu dgn menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya kerana riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan bagi orang itu adalah seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu jadilah ia bersih (tidak bertanah).”  (al-Baqarah: 263-264)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memperingatkan ujub dan menjadikannya termasuk hal-hal yang merosak. Ibn Umar meriwayatkan dari Baginda yang bermaksud:
“Tiga perkara yang merosak dan tiga perkara yang menyelamatkan. Sedangkan perkara-perkara yang merosak adalah kedekut yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujub seseorang terhadap dirinya.”  (HR Imam at-Thabrani, hadith hasan dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir, no. 3045)
Al-Quran telah mengisahkan kepada kita kejadian yang dialami kaum Muslimin pada waktu Perang Hunain. Allah telah memberikan kemenangan kepada mereka sewaktu Perang Badar, padahal mereka sama sekali tidak diunggulkan menang. Allah juga memberikan kemenangan kepada mereka pada Perang Khandaq, yang sebelum itu pandangan mereka meredup, hati mereka naik ke atas hingga sampai ke tenggorokan, mereka menduga yang bukan-bukan terhadap Allah dan mereka tergoncang dgn hebat. Allah juga memberikan kemenanagn kepada mereka pada waktu Perang Khaibar dan Fathu Makkah. Tetapi pada waktu Perang Hunain mereka menjadi ujub kerana jumlah mereka yang banyak. Ternyata jumlah yang banyak ini tidak memberi manfaat apa-apa, hingga mereka pasrah kepada Allah. Mereka pun menyedari bahawa kemenangan datang hanya dari sisi Allah. Dia berfirman yang bermaksud:
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai kaum Mu’min) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, iaitu pada waktu kamu menjadi sombong kerana banyaknya jumlah kamu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepada kamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit oleh kamu, kemudian kamu lari ke blkg dgn bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada mereka yang beriman.”  (at-Taubah: 25-26)
Orang Mu’min yang sedar adalah mereka yang menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah, lalu percaya bahawa kemenangan hanya dtg dari sisiNya. Firman Allah:
“Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”  (Aali Imran: 126)
Kemuliaan juga datang hanya dari sisiNya:
“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu.”  (Fathir: 10)
Taufiq kepada hal-hal yang baik juga berasal dari pertolongan Allah. FirmanNya:
“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dgn (pertolongan) Allah.”  (Hud: 88)
Hidayah hanya dtg dari sisiNya:
“Barangsiapa yang disesatkanNya, maka kamu tidak boleh mendapatkan seorang pemimpin pun yang dtg yang mampu memberikan petunjuk kepadanya.”  (al-Kahfi: 17)
Dikatakan dalam sebuah syair:
Andaikan Allah tiada mempedulikan kehendakmu
Nescaya tidak akan ada pilihan bagi semua manusia
Andaikan Dia tidak memberi petunjuk jalanmu
Nescaya kau akan tersesat sekali pun langit ada di sana

Ketiga Belas: Peringatan Agar Membersihkan Diri

Al-Quran telah memperingatkan untuk membersihkan diri dari pujian dan sanjungan ke atas dirinya, sebagaimana firmanNya:

“Dia lebih mengetahui tentang (keadaan) kamu, ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih dalam janin perut ibumu. Maka janganlah kamu mengatakan diri kamu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa.”  (an-Najm: 32)


Allah mencela orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap dirinya suci. Firman-Nya yang bermaksud:
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan sesiapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.”  (an-Nisa: 49)
Hal ini terjadi kerana mereka berkata, seperti yang dijelaskan Allah yang bermaksud:
“Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”  (al-Maidah: 18)
Perkataan mereka ini disanggah dengan firman-Nya yang bermaksud:
“Tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni sesiapa yang dikehendaki-Nya dan menyeksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan, kepunyaan  Allah-lah kerajaan di antara keduanya, dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).”  (al-Maidah: 18)
Orang yang telah melakukan sesuatu amal shaleh, tidak boleh mempamerkan amalnya itu, kecuali jika untuk menyampaikan nikmat Rabb-Nya:
“Dan terhadap nikmat Rabb-mu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dgn bersyukur).”  (ad-Dhuha: 11)
Selain itu ia bertujuan untuk memancing orang lain agar mengikutinya. Sabda Baginda yang bermaksud:
“Barangsiapa membuat sunnah yang baik, maka dia mendapat pahala sunnah itu dan pahala orang yang mengerjakannya.”  (HR Imam Muslim)
Dibolehkan juga jika bertujuan untuk membela diri kerana ada tuduhan yang dilemparkan kepadanya, padahal dia tidak bersangkut-paut dgn tuduhan tersebut, atau mungkin ada sebab-sebab lain. Semua itu diperbolehkan bagi orang yang batinnya sudah kuat kerana Allah semata dan bukan kerana tujuan yang bukan-bukan serta tidak tergolong pada ujub, tidak bertujuan mencari sanjungan dari orang lain dan mendapatkan kedudukan di kalangan masyarakat. Namun memang jrg orang yang bebas dari tujuan ini.
Orang Islam harus waspada, jangan sampai ujub terhadap diri sendiri, kerana kebaikan dan keshalihan yang dilakukannya, atau keyakinan bahawa hanya dialah yang beruntung sdg yang lain merugi, atau dia dan jamaahnyalah yang layak disebut al-firqah an-najiyyah (golongan yang selamat) sdgkan semua kaum Muslimin rosak, atau hanya merekalah yang layak disebut thaifah manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan) sdgkan yang lain dibiarkan.
Pandangan terhadap diri sendiri seperti ini adalah ujub yang merosak, dan pandangan terhadap orang-orang Islam seperti itu adalah pelecehan yang menghinakan.
Dalam sebuah hadith shahih disebuntukan: “Jika seseorang berkata ‘Manusia telah rosak’, maka dialah yang lebih rosak darip mereka.”  (HR Imam Muslim)
Hadith ini diriwayatkan dgn bacaan ‘ahlakuhum’, dgn pengertian bahawa justeru dialah yang lebih banyak dan lebih cepat menimbulkan kerosakan, kerana dia terpedaya oleh diri sendiri, congkak terhadap amalannya dan melecehkan orh lain. Dgn bacaan dan makna seperti ini, bererti dialah yang menyebabkan kerosakan mereka, kerana dia berasa lebih unggul dari mereka dan juga membuatkan mereka berputus asa terhadap rahmat Allah.
Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Larangan ini ditujukan kepada orang-orang yang berkata seperti itu, kerana ujub terhadap diri sendiri, mengecilkan orang lain dan berasa dirinya lebih unggul  dari mereka. Ini adalah perbuatan yang diharamkan. Tetapi jika perkataan seperti itu disampaikan kerana memang ada kekurangan dalam pengamalan agama mereka atau kerana rasa prihatin terhadap situasi mereka dan juga situasi agama mereka, maka hal itu tidak apa-apa. Inilah yang ditafsir dan dihuraikan oleh para ulama, seperti yang dikatakan olek Malik bin Anas, al-Khattabi, al-Humaidi dan lain-lainnya.
Dalam hadith lain disebutkan, yang bermaksud:
“Cukuplah seseorang disebut buruk jika dia mencela saudara Muslimnya.”  (HR Imam Muslim)
Sebab di antara orang Islam atas orang Islam lainnya adalah dilarang menzalimi, menghinakan dan melecehkannya. Tidak mungkin seseorang mencela saudaranya sendiri, sdgkan mereka ibarat dua cabang yang melekat di satu pohon yang sama.
Lihat apa yang dihuraikan oleh al-Ghazali di dlm Dzammusy-Syuhrah wa Intisyarushshit, dan Bayanu Fadhilatil-Khumul, dari kitab Dzamjul-Jah war-Riya’, dari kitab al-Ihya’, yang disyarahkan al-Allamah Murtadha az-Zubaidi, 8/232-238
 
 
TERIMAKASIH ..
 
JAZAK ALLAH KHAYR ..
 
 
 

Umar Ibn Al-Khattab RA