"Setiap ucapan adalah doa" bermaksud kata-kata yang keluar dari lisan membawa tenaga, pengaruh, dan berpotensi menjadi kenyataan.
Ungkapan ini menekankan pentingnya menjaga lisan dengan hanya menuturkan kebaikan, positif, dan harapan baik, kerana ia dianggap sebagai benih yang ditanam dan boleh kembali kepada pengucapnya.
"Setiap Ucapan Adalah Doa"
Kuasa Lisan:
Apa yang sering diucapkan, perlahan-lahan diundang masuk ke dalam kehidupan.
Energi Positif/Negatif:
Kata-kata adalah tenaga yang boleh mencorakkan realiti; elakkan kata-kata negatif walau sekadar gurauan.
Prinsip Kebaikan:
Ucapkan perkataan yang baik, doakan yang baik, dan percayalah bahawa kebaikan akan kembali kepada diri sendiri.
Menggantikan kata-kata biasa dengan doa, contohnya mengucapkan "Jazakallahu khairan" (semoga Allah membalas kebaikan) berbanding sekadar terima kasih.
Hati-hati:
Ucapan, terutama daripada seorang ibu, sangat dahsyat kesannya dan dianggap doa yang diaminkan semesta.
Oleh itu, ungkapan ini mendidik kita agar sentiasa berfikir sebelum berkata-kata, memastikan setiap butir bicara adalah doa yang mendatangkan keberkatan.
Makna seperti ini sangat sesuai dengan banyak hadis Nabi ﷺ. Sebagai contoh kami sebutkan beberapa hadis berikut ini,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ» (رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَالتِّرْمِذِي وَابْنُ مَاجَهٍ)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Nabi ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba (bisa) mengucapkan sebuah kalimat yang diridai Allah, ia tidak (terlalu) menghiraukannya, (namun) dengannya Allah mengangkat derajatnya (kemuliaannya).
Dan sungguh seorang hamba (dapat) mengucapkan sebuah kalimat yang dimurkai Allah, ia tidak (terlalu) menghiraukannya, (namun) dengannya Allah mencampakkannya ke dalam neraka Jahannam”.
(HR. al-Bukhari, al-Tirmiżī dan Ibnu Majah)
Demikian pula makna yang senada dengan peribahasa di atas, terdapat dalam sabda Rasulullah ﷺ berikut ini:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ لَا يَرَى بِهَا بَأْسًا يَهْوِي بِهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا فِي النَّارِ» (رَوَاه ُالتِّرْمِذِي وَأَحْمَدُ)
Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya seseorang (bisa) mengucapkan satu patah kata yang menurutnya tidak ada (dampak) apa-apa, tapi dengan kalimat itu ia jatuh ke dalam neraka selama tujuh puluh tahun”.
(HR. al-Tirmizi dan Ahmad)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ، أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ» (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Sesungguhnya seorang hamba (terkadang) mengucapkan kalimat tanpa ia teliti apa dampaknya, karenanya ia terlempar ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat.”
(HR. Muslim)
WALLAHU A'LAM ..


No comments:
Post a Comment